Ketika Bertahan Menjadi Luka: Perjalanan Seorang Ibu Muda dalam Rumah Tangga yang Tak Lagi Harmonis

Emosi dan Psikologi | 29 Sep 2025 | Athree | Dilihat 49x

Gambar Artikel

Rumahpulih.com - Izinkan saya berbagi kisah yang selama ini saya simpan sendiri. Saya seorang perempuan berusia 26 tahun, telah menikah hampir 7 tahun dan memiliki seorang anak laki-laki berusia 5 tahun. Di balik angka-angka itu, tersimpan cerita rumah tangga yang tidak semanis kelihatannya.

Awal pernikahan saya berjalan seperti kebanyakan pasangan muda lain. Ada pertengkaran kecil, tetapi saya anggap wajar. Saya memilih diam, menahan diri, dan berharap keadaan membaik. Namun memasuki tahun ketiga, saya mulai merasa lelah. Saya mulai berani menyampaikan pendapat ketika merasa disalahkan. Sejak saat itu, hubungan kami berubah.

Suami saya bukan pemabuk, bukan penjudi, dan tidak melakukan kekerasan fisik. Tetapi ia kerap melakukan silent treatment. Setiap masalah tidak pernah dibicarakan sampai selesai, hanya dibiarkan berlalu. Puncaknya, kami bertengkar hebat dan ia menalak saya. Ia bahkan beberapa kali mengantar saya kembali ke rumah orang tua baik secara langsung maupun lewat telepon. Namun saya selalu kembali, karena keluarga besar menolak kami berpisah dengan alasan anak kami masih kecil.

Saya pun memutuskan bekerja, berharap masalah ekonomi menjadi kunci perbaikan rumah tangga kami. Sayangnya, situasi bukannya membaik, justru semakin asing. Kami seperti dua orang asing yang tinggal di satu rumah. Saya tidak lagi dinafkahi selama setahun terakhir. Kami bahkan sudah tidak tidur sekamar selama tiga bulan. Ucapan “kita tidak cocok” dan “pulanglah ke rumah orang tuamu” kerap saya dengar, baik secara langsung maupun lewat pesan.

Yang paling menyakitkan, ketika saya jatuh dari motor untuk kedua kalinya, ia tidak datang menjenguk dengan alasan pekerjaan. Saya harus ke rumah sakit sendiri menggunakan transportasi online. Di tengah rasa sakit itu, saya memutuskan untuk tinggal di kos sendiri. Tetapi keluarga saya kembali menolak dengan alasan anak kami masih kecil dan belum siap melihat orang tuanya berpisah.

Kini saya di persimpangan jalan. Saya bukan tidak berusaha memperbaiki. Saya bukan tidak memikirkan anak saya. Tetapi saya juga manusia yang lelah dan butuh tempat aman. Pertanyaan yang terus berputar di kepala saya adalah: “Apakah saya salah jika kali ini saya ingin hidup sendiri?”

Cerita saya mungkin juga dialami oleh banyak perempuan di luar sana. Kita seringkali dianggap egois ketika mulai memikirkan diri sendiri. Padahal, menjaga kesehatan mental ibu juga sama pentingnya dengan menjaga kebahagiaan anak. Saya ingin mendengar pendapat teman-teman Rumah Pulih: bagaimana cara kita, sebagai ibu, menyeimbangkan kebutuhan diri dan anak ketika berada di situasi rumah tangga yang tak lagi harmonis?

Iklan Tengah

Bagikan artikel ini:

Bagikan Artikel Ini
Iklan / Sponsor
Iklan
Iklan 2
Iklan Mengambang