Ketika Pasangan Toxic Membuat Kita Tidak Lagi Produktif: Antara Bertahan dan Melepaskan

Komunikasi Keluarga | 04 Nov 2025 | Athree | Dilihat 30x

Gambar Artikel

Rumahpulih.com - Pernikahan seharusnya menjadi tempat tumbuh bersama, saling mendukung, dan saling menguatkan. Namun, bagaimana jika hubungan justru menjadi sumber tekanan, manipulasi, dan kehilangan jati diri?


Saat Hidup Bersama Pasangan Toxic


Kisah ini dialami banyak istri:

“Sejak menikah, aku jadi tidak produktif seperti dulu. Semua kegiatan terbatas. Aku sudah bantu ekonomi keluarga, kerja jadi asisten rumah tangga agar suami tidak perlu berutang. Tapi tetap saja, semua terasa tidak cukup, dan omongannya tidak bisa dipercaya.”


Pasangan toxic sering kali berperan sebagai “korban” (playing victim) setiap kali ada masalah. Ia mengalihkan tanggung jawab dan membuat pasangannya merasa bersalah, meski sebenarnya bukan kesalahannya.

Akibatnya, istri sering:


Merasa tidak berdaya dan terus disalahkan


Kehilangan semangat dan produktivitas


Merasa hidupnya penuh keterbatasan


Menjadi penopang ekonomi dan emosi sendirian



Saat Pikiran untuk Bercerai Mulai Muncul


“Aku bilang mau cerai aja, karena aku juga nggak tahan dengan sikap keluarganya yang suka memojokkan aku. Tapi dia pun tidak bisa mengurus apa pun — bahkan mencari uang saja aku yang harus lakukan.”


Keputusan untuk berpisah bukan hal yang mudah, apalagi saat sudah ada anak di tengah-tengah. Banyak ibu terjebak dalam dilema:

Jika bertahan, hidup terasa sesak.

Jika berpisah, muncul rasa takut tidak bisa menafkahi anak.


Namun, penting diingat: tidak ada anak yang benar-benar bahagia jika ibunya terus terluka.

Anak belajar dari apa yang ia lihat, bukan hanya dari apa yang ia dengar. Ibu yang terluka setiap hari sulit memberi rasa aman emosional bagi anak.


Langkah-langkah Realistis untuk Keluar dari Siklus Toxic


1. Kenali dan validasi perasaanmu.

Jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu sudah berjuang keras. Menyadari bahwa hubunganmu tidak sehat adalah langkah awal menuju pemulihan.



2. Bangun kembali jaringan dukungan.

Hubungi teman, saudara, atau lembaga yang bisa mendampingi perempuan korban kekerasan emosional. Di Indonesia, ada layanan seperti:


SAPA 129 (KemenPPPA)


LBH APIK


Komnas Perempuan

Mereka bisa memberi pendampingan hukum, psikologis, bahkan tempat perlindungan sementara.




3. Rencanakan kemandirian finansial.

Kamu sudah terbukti kuat dan bisa bekerja. Mulailah pelan-pelan menabung atau cari sumber penghasilan yang tidak membuatmu terlalu lelah secara fisik, seperti kerja daring, jualan online, atau usaha rumahan kecil.



4. Fokus pada anak, tapi juga pada dirimu.

Anak butuh ibu yang sehat — bukan sempurna. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri, meski hanya sebentar, untuk membaca, menulis, atau berdoa.



5. Pertimbangkan konseling keluarga atau individu.

Jika pasangan masih bisa diajak bicara, lakukan konseling bersama. Tapi jika tidak, fokuslah pada pemulihan dirimu sendiri dulu.



Perspektif Islami: Allah Tidak Ingin Hambanya Terluka


Dalam Islam, pernikahan adalah sakinah, mawaddah, warahmah — tempat kedamaian dan kasih sayang. Jika pernikahan justru melahirkan luka batin, maka berpisah bukan berarti gagal, tetapi melindungi diri dari kezaliman.


Allah berfirman:

“Dan jika keduanya berpisah, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya.”

(QS. An-Nisa: 130)


Percayalah, rezeki dan ketenangan akan tetap Allah jamin bagi hamba-Nya yang berani mengambil langkah demi kebaikan.


Penutup


Tidak mudah keluar dari hubungan toxic, apalagi jika sudah terikat tanggung jawab dan anak. Tapi langkah sekecil apa pun menuju kebebasan dan pemulihan adalah bentuk cinta terhadap diri sendiri dan anakmu.


Kamu tidak sendirian. Banyak perempuan lain yang juga sedang berjuang seperti kamu, dan mereka berhasil menemukan kembali cahaya hidupnya.


Mulailah hari ini, dengan keyakinan bahwa kamu pantas bahagia dan hidup damai tanpa ketakutan.

Iklan Tengah

Bagikan artikel ini:

Bagikan Artikel Ini
Iklan / Sponsor
Iklan
Iklan 2
Iklan Mengambang