Cara Menegur Anak Tanpa Melukai Mentalnya
Pengasuhan_Positif | 21 Jun 2025 | Athree | Dilihat 8x

RumahPulih.com - Menjadi orang tua terkadang melihat anak berperilaku anak tidak baik kita diwajibkan untuk menegurnya,tapi niat menegur, tetapi terkadang malah melukai perasaan anak.
“Kenapa sih kamu selalu bikin masalah?”
“Kamu itu bikin malu Mama aja!”
Kalimat seperti ini sering keluar saat orang tua sedang lelah..
Saat teguran disampaikan dengan nada marah, menyudutkan, atau merendahkan, anak bisa merasa bukan hanya perbuatannya yang salah tapi dirinya yang buruk. Ini bukan hanya membuat anak takut, tapi juga merusak harga dirinya secara perlahan.
Penelitian: Teguran Kasar Menurunkan Harga Diri dan Mental Anak
Menurut studi dari University of Pittsburgh, anak-anak yang sering mendapat teguran dengan nada kasar atau ejekan menunjukkan gejala:
Rendah diri dan memiliki rasa malu atau tidak percaya diri yang tinggi.
Perilaku agresif dan emosional terhadap teman sebaya, karena mencontoh tindakan orang tuanya.
Hubungan yang menjauh dari orang tua, karena anak merasa tidak nyaman dengan orang tuanya
Tidak hanya itu Peneliti dari Harvard University juga menyatakan bahwa pengalaman ditegur dengan penuh kemarahan dapat merusak self-concept (konsep diri) anak sejak usia dini. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa “Aku tidak cukup baik” atau “Aku hanya disayang kalau aku sempurna.”
Padahal, tujuan menegur seharusnya adalah untuk membimbing anak memperbaiki kesalahan, bukan melukai mental anak.
Pandangan Islam: Teguran yang Lembut dan Bermakna
Dalam Islam, menegur anak bukan hanya soal mendisiplinkan, tapi juga tanggung jawab moral dan kasih sayang. Rasulullah ? adalah teladan utama dalam hal ini.
Ketika Nabi ? menegur seseorang, beliau tidak pernah mencela dengan menyebut nama atau mempermalukan. Beliau bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa cara menegur pun harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi.
Dampak Teguran yang Merendahkan: Luka Batin Anak
Jika orang tua sering menegur dengan bentakan atau hinaan, anak bisa mengalami:

Rendah diri: Anak merasa dirinya buruk, bukan hanya perbuatannya.
Takut mencoba: Anak enggan mencoba hal baru karena takut dimarahi oleh orang tuanya jika gagal
Menjauh dari orang tua: Anak merasa orang tua hanya mencintai saat dirinya “baik-baik saja.”
Luka ini sering terbawa hingga dewasa, menjadikan mereka pribadi yang penuh keraguan, atau justru menjadi keras terhadap orang lain.
Solusi: Menegur Tanpa Melukai
1. Fokus pada perilaku anak, bukan diri si anak.
Contoh:
Jangan ucapan ini : “Kamu nakal banget!”
Tapi ucapan ini : “Mama tidak suka saat kamu membanting pintu.”
2. Gunakan nada tenang, tapi tegas
Teguran tidak harus keras agar didengar. Nada tenang justru membuat pesan lebih diterima si anak.
3. Gunakan momen tenang untuk menasehati
Tunda menegur jika kamu masih marah. Nasehat paling baik datang dari hati yang sudah tenang.
4. Ajak anak berdialog, bukan hanya dimarahi
Tanya
Contohnya : “Kamu tadi marah karena apa?”
“Menurut kamu, apa yang bisa kamu lakukan lebih baik lain kali?”
5. Akhiri dengan pelukan atau kalimat cinta
Teguran yang ditutup dengan cinta akan membangun rasa aman.
“Mama marah karena sayang. Kamu tetap anak yang baik.”
Penutup: Menegurlah dengan tenang dengan tujuan Mendidik, Bukan Menghakimi
Menegur anak adalah bagian dari tanggung jawab orang tua. Tapi cara kita menyampaikannya akan menentukan apakah anak tumbuh merasa dicintai atau direndahkan.
Dalam Islam dan sains, kita belajar bahwa teguran yang efektif bukan yang paling keras, tapi yang paling menyentuh hati. Karena anak yang ditegur dengan cinta, akan tumbuh pribadi yang baik dengan bukan luka yang akan menciderai hati dan mentalnya.
#GentleParenting #ParentingPositif #ParentingEmpatik #PsikologiAnak #TumbuhKembangAnak #SelfEsteemAnak
Iklan / Sponsor


