Tantrum Bukan Sekadar Anak Nakal: Cara Mereka Bicara Saat Belum Mampu dengan Kata-Kata
Emosi dan Psikologi | 25 Aug 2025 | Athree | Dilihat 63x
Rumahpulih.com - Banyak orang tua merasa kewalahan ketika anak tiba-tiba menjerit, menangis, atau bahkan berguling di lantai. Fenomena ini dikenal sebagai tantrum. Sayangnya, tidak sedikit orang tua atau orang dewasa lain yang menilai tantrum sebagai bentuk “kenakalan” atau sikap manja anak. Padahal, tantrum bukanlah tanda anak nakal, melainkan cara komunikasi mereka ketika keterampilan berbahasa dan regulasi emosinya belum matang. Saat anak belum mampu mengutarakan perasaan dengan kata-kata, tantrum menjadi “bahasa tubuh” untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Penelitian: Apa Kata Ahli tentang Tantrum?
Menurut penelitian dari American Academy of Pediatrics (AAP), tantrum biasanya muncul pada anak usia 1–4 tahun, dengan puncaknya di usia 2–3 tahun. Hal ini terjadi karena pada masa tersebut, perkembangan otak bagian prefrontal cortex (yang berfungsi mengatur emosi dan logika) masih sangat dini. Anak belum mampu mengendalikan emosi yang intens, sehingga meluapkannya lewat teriakan, tangisan, atau perilaku agresif.
Penelitian lain dari University of Connecticut menunjukkan bahwa tantrum sering dipicu oleh tiga hal utama:
1. Frustrasi – misalnya anak ingin sesuatu tetapi tidak bisa mengungkapkannya.
2. Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi – seperti lapar, lelah, atau butuh perhatian.
3. Transisi dan perubahan – anak merasa kesulitan beradaptasi dengan situasi baru.
Temuan ini menegaskan bahwa tantrum bukanlah bentuk “nakal” atau “kurang ajar”, melainkan reaksi biologis dan psikologis yang wajar sesuai tahap perkembangan anak.
Solusi: Cara Bijak Mendampingi Anak Saat Tantrum
Alih-alih memarahi atau menghukum, orang tua dapat melakukan pendekatan yang lebih empatik:
1. Tetap tenang
Anak yang tantrum butuh orang tua yang stabil. Jika orang tua ikut emosi, tantrum bisa semakin parah.
Bagikan artikel ini:
2. Validasi perasaan anak
Katakan dengan lembut: “Ayah tahu kamu marah karena mainannya diambil”. Validasi membantu anak merasa dipahami.
3. Alihkan dengan hal positif
Setelah emosi sedikit mereda, arahkan perhatian anak pada hal lain, misalnya mengajak menggambar atau memeluk boneka favoritnya.
4. Beri ruang aman
Jika anak menendang atau melempar barang, pastikan lingkungan sekitar aman agar tidak melukai diri sendiri.
5. Latih komunikasi emosi
Setelah situasi tenang, ajarkan anak menyebutkan perasaan sederhana: marah, sedih, lelah, lapar. Dengan latihan, anak akan belajar mengekspresikan diri tanpa tantrum.
---
Kesimpulan
Tantrum bukanlah cerminan kenakalan anak, melainkan bahasa emosional yang mereka gunakan ketika kata-kata belum cukup. Penelitian menunjukkan tantrum adalah bagian wajar dari tumbuh kembang, terutama pada usia balita. Yang dibutuhkan anak bukanlah teriakan atau hukuman, melainkan orang tua yang mampu menenangkan, memvalidasi perasaan, dan memberi contoh cara sehat mengelola emosi. Dengan pendampingan yang sabar dan penuh kasih, anak akan belajar bahwa emosinya diterima, sekaligus perlahan-lahan mampu mengkomunikasikan perasaannya dengan kata-kata.
#rumahpulih #tantrum
Bagikan Artikel Ini