Ketika Anak Menangis: Mereka Butuh Didengar, Bukan Disalahkan

Emosi dan Psikologi | 27 Aug 2025 | Athreeq | Dilihat 83x

Gambar Artikel

Rumah pulih.com - Tangisan bukan sekadar ekspresi sedih. Bagi anak, menangis bisa berarti banyak hal: lelah, lapar, kecewa, marah, merasa tidak aman, atau butuh perhatian. Dalam dunia psikologi anak, tangisan adalah bentuk komunikasi non-verbal yang sehat. Dengan menangis, anak sedang memberi sinyal bahwa mereka butuh dimengerti.


Penelitian dari University of California menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan validasi emosional dari orang tuanya—misalnya dengan didengarkan dan dipeluk saat menangis—cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik saat tumbuh dewasa. Sebaliknya, anak yang sering diabaikan atau disalahkan ketika menangis bisa merasa perasaannya tidak penting, sehingga berisiko tumbuh dengan masalah kepercayaan diri atau kesulitan mengelola emosi.


Pentingnya Validasi Perasaan Anak


Validasi berarti mengakui bahwa perasaan anak itu nyata, wajar, dan berharga. Bukan berarti kita selalu setuju dengan perilaku mereka, tetapi kita memberi ruang agar mereka tahu bahwa emosi yang dirasakan tidak salah.


Contoh respon yang memvalidasi:



  • “Ibu tahu kamu sedih karena mainannya rusak, ya?”

  • “Ayah mengerti kamu marah karena ingin main lebih lama.”

  • “Nangis itu tidak apa-apa, Nak. Kamu boleh cerita kalau sudah siap.”


Respon seperti ini membuat anak merasa aman, dicintai, dan dihargai. Dari situlah terbentuk pondasi kesehatan mental yang kuat.


Iklan Tengah

Bagikan artikel ini:

Cara Orang Tua Bisa Mendampingi Anak yang Menangis



  1. Dengarkan tanpa menghakimi – Berikan waktu bagi anak untuk mengekspresikan emosinya.

  2. Gunakan sentuhan lembut – Pelukan atau genggaman tangan memberi rasa aman.

  3. Hindari kata-kata yang meremehkan – Hindari ucapan seperti “Ah, cuma gitu aja nangis”.

  4. Ajak bicara setelah tenang – Saat emosi sudah mereda, baru diskusikan solusinya bersama.

  5. Jadi contoh pengelolaan emosi – Anak belajar dari cara orang tua merespon masalah.


Kesimpulan


Tangisan anak bukan sesuatu yang harus dipadamkan dengan cepat, melainkan dimaknai sebagai bahasa hati. Saat orang tua memilih untuk mendengarkan, bukan menyalahkan, anak belajar bahwa emosinya penting dan diterima. Validasi perasaan inilah yang menjadi hadiah terbesar untuk jiwanya, sebuah bekal penting dalam perjalanan tumbuh kembangnya.

Bagikan Artikel Ini
Iklan / Sponsor
Iklan
Iklan 2
Iklan Mengambang