Ketika Unjuk Rasa Jadi Tontonan: Mengajarkan Anak Memilah Kekerasan dan Demokrasi
Pengasuhan Positif | 31 Aug 2025 | Athree | Dilihat 61x
Rumahpulih.com - Hari ini sabtu tanggal 30 Agustus 2025 terjadi aksi unjuk rasa akibat kekecewaan masyarakat kepada DPR ( Dewan Perwakilan Rakyat ) di banyak kota di Indonesia, termasuk di daerah tempat tinggalku Banyumas,Purwokerto.
Aku melihat tetangga ku yang berdinas sebagai Polisi yang biasanya mendapat libur berdinas, aku melihat hari ini dia berangkat untuk pengamanan unjuk rasa.
Dia sebagai teman bermain anak-anaknya di hari itu dia berangkat untuk menjalankan tugas.
Aku melihat anak-anaknya menangis ketika ayahnya berpamitan berangkat, namun dengan rayuan dan pengertian oleh ibunya anak-anak akhirnya diam dan merelakan ayahnya berangkat.
Tapi tidak sedikit juga dari tetangga ku yang menjadi peserta unjuk rasa dimulai dari driver ojek online, mahasiswa dan pelajar.
Mereka juga berjuang menyampaikan aspirasi yang tujuanya adalah agar kebijakan pemerintah yang merugikan mereka dapat dihapus.
Mereka ingin perekonomian mudah agar mereka dapat menghidupi keluarga dengan layak.
Sebagai orang tua, kita perlu membantu anak memahami bahwa tidak semua tontonan layak ditelan mentah-mentah.
Video yang viral bisa saja sudah diedit, menampilkan sisi tertentu saja, atau bahkan disebarkan untuk menimbulkan ketakutan dan kebencian.
Mengapa Anak Perlu Berhati-hati?
1. Dampak Emosional
Tontonan penuh kekerasan bisa membuat anak merasa cemas, takut, atau justru terbiasa dengan hal-hal negatif.
2. Risiko Salah Persepsi
Tanpa pendampingan, anak mungkin menyangka bahwa semua unjuk rasa itu berbahaya, padahal ada juga aksi damai yang penuh nilai demokrasi.
3. Terjebak Hoaks
Banyak konten provokatif dibuat untuk menyesatkan. Anak yang masih belajar memilah informasi bisa mudah terpengaruh.
Tips untuk Anak dalam Menyikapi Tontonan
Pahami konteksnya: Tidak semua video menggambarkan keseluruhan peristiwa.
Bedakan damai dan anarkis: Suara rakyat itu wajar, tapi kekerasan tidak pernah bisa dibenarkan.
Kurangi paparan kekerasan: Jika merasa takut atau tidak nyaman, segera hentikan tontonan.
Diskusi dengan orang tua: Jangan ragu bertanya atau menceritakan apa yang dilihat.
Periksa sumber: Pastikan informasi berasal dari media terpercaya, bukan akun anonim.
Gunakan empati: Belajar memahami bahwa setiap orang punya cara menyampaikan pendapat, tapi harus tetap menghormati orang lain.
Batasi waktu menonton: Seimbangkan dengan aktivitas positif lain agar pikiran tetap sehat.
Kesimpulan:
Internet bisa menjadi jendela ilmu, tapi juga bisa menjadi pintu masuk bagi konten negatif. Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak bisa belajar melihat dunia dengan kritis, bijak, dan penuh empati.
Mari dampingi mereka agar tidak sekadar menonton, tapi juga mampu memahami dan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
#rumuahpulih #polaasuhpositif
Bagikan artikel ini:
Bagikan Artikel Ini