Ada Apa yang Mempengaruhi Suamiku Belakangan Ini?
Komunikasi Keluarga | 09 Sep 2025 | Athree | Dilihat 53x
Rumahpulih.com - Dalam kehidupan rumah tangga, tidak jarang kita menghadapi fase sulit, terutama terkait masalah ekonomi. Banyak pasangan yang awalnya berjalan baik-baik saja, namun kemudian diuji dengan kondisi keuangan yang semakin berat.
Kisah seperti suami yang terlihat malas, lebih sering nongkrong di warung kopi, dan mudah marah ketika diajak bicara soal usaha sampingan, bisa membuat seorang istri merasa bingung dan lelah.
Apakah ini hanya soal malas? Atau ada faktor psikologi yang sedang memengaruhi suami kita?
Tekanan Ekonomi Bisa Menjadi Beban Psikologis
Suami yang bekerja dengan gaji 3 juta per bulan dan harus membiayai istri, tiga anak kecil, serta cicilan atau hutang, sebenarnya sudah berada dalam kondisi mental yang penuh tekanan.
Pada awalnya mungkin ia masih bisa bertahan, namun ketika ujian semakin berat di tahun berikutnya, wajar jika semangatnya menurun.
Dalam psikologi, kondisi ini disebut burnout atau kelelahan mental. Seorang kepala keluarga bisa kehilangan motivasi karena merasa apapun yang ia lakukan tidak cukup.
Akhirnya, ia cenderung mencari pelarian, misalnya dengan tidur lebih banyak, nongkrong di warung kopi, atau menghindari pembicaraan serius tentang ekonomi.
Marah Bukan Karena Tidak Sayang, Tapi Karena Tersudut
Banyak istri yang mengeluhkan, “Setiap kali aku sarankan cari sampingan, suami malah marah.” Hal ini bisa jadi bukan karena suami tidak mau mencari solusi, tapi karena merasa dirinya gagal sebagai pencari nafkah.
Kata-kata yang menyinggung soal tambahan penghasilan sering ia terjemahkan sebagai, “Aku dianggap kurang mampu.” Maka, ia memilih membela diri dengan marah atau menyuruh “sabar” sebuah mekanisme pertahanan diri.
Di sisi lain, ini juga bisa jadi tanda adanya gejala depresi ringan. Orang yang sedang tertekan akan lebih mudah tersinggung, sulit berpikir jernih, dan memilih jalan paling mudah: menunda atau menghindari masalah.
Budaya "Sabar" yang Salah Kaprah
Kata “sabar” memang indah, tetapi ketika sabar hanya dijadikan alasan untuk tidak bergerak, itu justru bisa menambah masalah.
Dalam Islam, sabar selalu diiringi dengan ikhtiar.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian bertawakallah.”
Artinya, seseorang tidak bisa hanya duduk diam lalu berharap masalah selesai.
Suami yang selalu berkata sabar tetapi tidak mencari solusi sebenarnya sedang mengalami kebingungan dalam memahami konsep sabar dan ikhtiar.
Perubahan Perilaku Bisa Jadi Alarm
Jika suami tiba-tiba menjadi malas, sering tidur, menghindari tanggung jawab, atau lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah, itu bisa menjadi alarm adanya masalah psikologi. Beberapa kemungkinan antara lain:
1. Stres berkepanjangan – Tekanan finansial membuat otak lelah dan tubuh kehilangan semangat.
2. Rasa tidak berdaya – Suami merasa usaha apapun tidak akan cukup, sehingga memilih pasrah.
3. Gejala depresi – Ditandai dengan tidur berlebihan, kehilangan motivasi, dan menarik diri dari keluarga.
4. Pelarian sosial – Nongkrong di warung kopi bisa jadi cara untuk lari dari kenyataan rumah.
Apa yang Bisa Dilakukan Istri?
Sebagai istri, tentu berat menghadapi semua ini. Namun, ada beberapa langkah kecil yang bisa membantu:
1. Ubah cara komunikasi
Alih-alih menyarankan dengan nada “cari kerja sampingan dong”, coba gunakan bahasa empati: “Aku tahu abang capek banget, tapi aku juga bingung kalau uang nggak cukup. Apa kira-kira ada usaha kecil yang bisa kita jalani bareng?”
2. Ajak libatkan, bukan menyalahkan
Kadang suami lebih mau bergerak jika merasa dihargai. Misalnya: “Kalau abang bisa bantu aku cari pembeli, biar aku yang masak atau jualan online.”
3. Cari peluang usaha tanpa modal besar
Misalnya, jualan makanan ringan dengan sistem titip di warung, jadi reseller online, atau memanfaatkan skill kecil seperti servis HP, ojek online, atau kerja harian lepas. Banyak usaha sampingan yang tidak butuh modal besar, tapi butuh semangat kerjasama.
4. Doa dan dukungan emosional
Suami yang sedang tertekane sebenarnya butuh istri yang menjadi teman, bukan hakim. Doa, pelukan, dan kata-kata penuh dukungan bisa jadi obat sederhana untuk membangkitkan semangatnya.
5. Pertimbangkan konseling atau bimbingan rohani
Jika suami benar-benar menutup diri, ada baiknya mengajak ia bicara dengan ustadz, konselor keluarga, atau orang yang ia percaya. Kadang nasihat dari orang lain lebih mudah diterima.
Penutup
Jadi, malasnya suami bukan semata-mata soal karakter, tetapi bisa terkait dengan faktor psikologi, tekanan ekonomi, bahkan rasa gagal sebagai kepala keluarga.
Sebagai pasangan, kita perlu memahami bahwa masalah ini butuh komunikasi yang hangat, dukungan emosional, dan kerja sama untuk mencari jalan keluar.
Rumah tangga adalah ladang ujian, dan ujian terbesar seringkali datang dari ekonomi. Namun, jika suami-istri bisa saling menguatkan, bukan saling menyalahkan, insyaAllah akan ada jalan rezeki yang terbuka.
Karena Allah SWT berjanji, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6).
Bagikan artikel ini:
Bagikan Artikel Ini