Ketika Hati Seorang Ibu Muda Diuji: Antara Tanggung Jawab, Perasaan, dan Harapan
Emosi dan Psikologi | 20 Sep 2025 | Athree | Dilihat 62x
Rumahpulih.com - Menjadi seorang ibu muda dengan dua anak bukanlah perjalanan yang mudah. Terkadang, orang hanya melihat dari luar: senyum hangat, tawa bersama anak-anak, atau momen kebersamaan yang tampak indah di mata orang lain. Namun, dibalik itu semua, ada beban berat yang sering kali tidak terlihat.
Beban ini bukan hanya soal tanggung jawab mengurus rumah, anak, dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga pergulatan batin yang begitu dalam.
Dulu, sebelum menjadi seorang ibu, hidup terasa lebih ringan. Tidak ada banyak beban pikiran, tidak ada tanggung jawab sebesar sekarang. Sifat ceria membuat segalanya terlihat sederhana jatuh bangun bisa disikapi dengan tawa, masalah bisa dilewati dengan kepala tegak, dan hati terasa lebih kuat menghadapi apa pun.
Namun, seiring bertambahnya tanggung jawab, perubahan besar mulai terasa, bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam hati dan pikiran.
Perubahan Emosional Seorang Ibu Muda
Banyak ibu muda yang mengalami perubahan emosional setelah memiliki anak. Ada rasa cepat lelah, mudah tersinggung, bahkan gampang menangis. Tekanan dari berbagai sisi mulai dari kondisi ekonomi, hubungan dengan pasangan, hingga tuntutan sosial membuat seorang ibu seolah-olah kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.
Pada akhirnya, tubuh dan pikiran ikut bereaksi. Hal kecil bisa membuat perasaan terluka, kekhawatiran kecil bisa berujung sakit kepala, bahkan perasaan sedih dapat membuat selera makan hilang berhari-hari. Dalam kondisi ini, seorang ibu merasa seolah-olah tidak punya kendali penuh atas dirinya. Padahal, justru di saat seperti ini, anak-anak membutuhkan ketenangan, pelukan, dan senyum dari ibunya.
Antara Anak dan Rasa Bersalah
Salah satu hal yang paling berat adalah ketika emosi itu tumpah pada anak. Seorang ibu tentu tidak pernah berniat menyakiti hati anaknya. Namun, kelelahan dan tekanan sering kali membuat kesabaran menipis. Anak melakukan kesalahan kecil hal yang sebetulnya wajar bagi usianya tetapi karena hati sang ibu sudah penuh, ia bereaksi berlebihan. Akibatnya, muncul rasa bersalah yang mendalam.
Perasaan seperti ini bisa menjadi lingkaran yang sulit diputus. Ibu marah, lalu merasa bersalah, kemudian menangis, dan kembali mengulanginya ketika emosi tidak terkendali. Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga secara mental.
Harapan Akan Ketenangan
Di balik segala kesulitan, seorang ibu tentu memiliki satu harapan besar: hati yang tenang. Ketenangan adalah kunci agar bisa tetap waras di tengah badai kehidupan. Dengan hati yang tenang, seorang ibu bisa lebih sabar, lebih bijak, dan lebih mampu menata hidup.
Untuk mencapainya, memang tidak mudah. Perlu usaha untuk menyadari bahwa seorang ibu juga manusia biasa, yang punya batas tenaga dan perasaan. Tidak apa-apa merasa lelah. Tidak apa-apa menangis. Yang terpenting adalah bangkit kembali, mencoba mengelola perasaan, dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Mengelola Perasaan Sebagai Ibu
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan seorang ibu muda untuk mengelola perasaannya:
1. Memberi ruang untuk diri sendiri. Luangkan waktu sejenak hanya untuk bernapas, duduk tenang, atau melakukan hal kecil yang disukai.
2. Bercerita pada orang terdekat. Jangan memendam semua perasaan. Ceritakan pada pasangan, sahabat, atau keluarga yang dipercaya.
3. Menjaga kesehatan fisik. Walaupun sulit, usahakan tetap makan meski sedikit. Tubuh yang sehat membantu pikiran lebih stabil.
4. Mendekatkan diri kepada Tuhan. Doa menjadi sumber kekuatan yang tidak ternilai. Dalam setiap tangis, ada harapan yang bisa diadukan pada-Nya.
5. Belajar memaafkan diri sendiri. Kesalahan pada anak tidak menjadikan seorang ibu gagal. Justru dari situ, ibu belajar untuk lebih sabar dan kuat.
Kesimpulan
Aku seorang ibu muda dengan dua anak. Dulu aku orangnya ceria sekali, tidak mudah baper, dan selalu bisa bahagia meskipun banyak masalah. Tapi sekarang, aku begitu mudah terbawa perasaan, gampang kepikiran, dan ketika kepikiran itu datang, rasanya sakit kepala hingga ulu hati, sampai-sampai aku tidak makan berhari-hari. Meski begitu, alhamdulillah aku masih kuat, walaupun kadang tidak ada yang masuk ke mulut.
Sungguh berat mengendalikan perasaan seperti ini. Saat sendiri, aku sering menangis. Dan yang sering terjadi, ketika anakku berbuat salah sedikit, aku marah-marah seolah-olah dia melakukan kesalahan besar. Aku capek terus-menerus seperti ini. Aku ingin hatiku tenang, pikiranku damai, meskipun banyak cobaan dan masalah yang harus aku hadapi.
Bagikan artikel ini:
Bagikan Artikel Ini