Pola Asuh Sangat Berpengaruh terhadap Karakter Anak (Cerita Nyata)

Pengasuhan Positif | 21 Sep 2025 | Athree | Dilihat 65x

Gambar Artikel

Rumahpulih.com - Beberapa waktu lalu saya diminta tolong untuk menemani keponakan membeli sesuatu di supermarket. Kebetulan saat itu kondisi saya sedang hamil, dan tanpa diminta, ia dengan inisiatif langsung membantu membawa keranjang belanjaan. Padahal keranjang itu tidak begitu berat, tetapi sikap peduli dan peka yang ia tunjukkan terasa begitu hangat.


Ada momen menarik ketika saya mencari sebuah barang namun tidak menemukannya. Kami berdua sudah beberapa kali bolak-balik di lorong yang sama, sampai akhirnya keponakan saya dengan sigap menghampiri salah satu karyawan untuk bertanya. Tak lama kemudian, barang yang kami cari ditemukan.


Ia lalu mengucapkan terima kasih, dan saya ikut menambahkan. Dari hal kecil seperti itu, saya melihat bagaimana keberanian, inisiatif, dan sikap positif sudah terbentuk dalam dirinya.


Setiap kali ada acara keluarga, saya juga memperhatikan bahwa keponakan saya tidak pernah terlihat canggung. Ia mudah berbaur, berbicara dengan siapapun tanpa rasa takut, dan selalu menyenangkan ketika diajak berdiskusi.


Ia bahkan aktif dalam organisasi kampus, mampu menyelesaikan banyak hal seorang diri tanpa terlalu bergantung pada orang tuanya.


Saya jadi penasaran, apa yang membuat karakter anak ini begitu matang? Ternyata jawabannya ada pada pola asuh yang diterapkan oleh kakak ipar saya.


Hangatnya Pola Asuh yang Positif


Keluarga ipar saya membangun hubungan yang sangat dekat antara orang tua dan anak. Saat ada waktu berkumpul, mereka benar-benar hadir secara emosional. Ada obrolan ringan, tawa, saling mendengarkan, dan bahkan diskusi serius jika diperlukan.


Mereka mampu menempatkan diri dalam berbagai peran bisa menjadi sahabat, guru, pendengar yang baik, bahkan pemimpin yang tegas ketika situasi mengharuskan.


Saya melihat bagaimana kakak ipar saya, terutama yang perempuan, begitu dekat dengan anak perempuannya. Ada komunikasi yang intens, ada keterbukaan, dan ada rasa percaya yang terbangun.


Tak heran jika keponakan saya tumbuh dengan kepribadian yang mandiri, ramah, serta percaya diri. Kehangatan itu juga menular pada saya lambat laun, saya merasa nyaman untuk lebih banyak mengobrol dengan mereka tanpa merasa tertekan.


Kontras dengan Pengalaman Masa Kecil Saya


Kondisi ini jauh berbeda dengan pola asuh yang saya alami di rumah orang tua. Sejak kecil, saya tidak pernah benar-benar merasakan kebersamaan. Tidak ada momen ngobrol santai, tidak ada ruang untuk saling mendengar. Hubungan orang tua dan anak terasa kaku, sebatas peran formal saja.


Ibu saya tidak pernah dekat dengan anak-anak perempuannya, begitu juga ayah dengan anak laki-lakinya. Pola pikir patriarki begitu dominan, membuat anak-anak lebih sering merasa dibatasi daripada didukung. 


Saya pribadi tumbuh dengan banyak rasa takut, sering dilarang mencoba hal baru, hingga akhirnya terbawa menjadi kesulitan bersosialisasi saat dewasa.


Saya merasa canggung bertemu orang, apalagi dengan sesama perempuan, dan sering kali menutup diri sebelum sempat mencoba. Hal yang sama juga dirasakan oleh saudara-saudara saya; luka pola asuh ini bukan hanya saya yang merasakan.


Dukungan dari Suami dan Keluarga Baru


Saya baru berani mencoba banyak hal setelah menikah. Syukurlah, suami saya memahami kondisi saya. Ia tidak memaksa saya untuk langsung bisa bersosialisasi dengan keluarganya, tetapi memberi ruang bagi saya untuk belajar pelan-pelan. 


Dukungan dari keluarga suami juga membuat saya merasa diterima apa adanya. Dari situlah saya mulai menyadari betapa besarnya pengaruh lingkungan dan pola asuh terhadap perkembangan diri seseorang.


Belajar untuk Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik


Pengalaman masa kecil saya mungkin tidak ideal, tetapi itu justru menjadi dorongan besar agar saya bisa memberikan yang terbaik untuk anak saya kelak. Saya tidak ingin anak saya merasakan hal yang sama seperti yang pernah saya alami.


Saya ingin ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, dengan gizi yang baik, kesehatan mental yang terjaga, pola pikir yang positif, karakter yang ramah dan rendah hati, serta tujuan hidup yang jelas. Saya ingin ia merasa aman untuk bercerita, berani untuk mencoba, dan percaya diri menghadapi dunia.


Saya sadar bahwa menjadi orang tua bukanlah hal mudah. Tidak ada pola asuh yang sempurna. Tetapi dengan terus belajar, membuka diri, dan mau memperbaiki diri, saya percaya setiap orang tua bisa memberikan versi terbaik dari dirinya untuk anak-anaknya. Terlebih lagi jika lingkungan sekitar juga mendukung, maka proses tumbuh kembang anak akan semakin optimal.


Penutup


Dari pengalaman sederhana di supermarket, saya belajar banyak tentang hasil dari pola asuh yang sehat. Anak yang dididik dengan kasih sayang, komunikasi, dan dukungan yang konsisten akan tumbuh menjadi pribadi yang matang, berani, dan penuh empati.


Sebaliknya, pola asuh yang kaku dan minim komunikasi sering kali meninggalkan luka yang terbawa hingga dewasa.


Karena itulah, pola asuh memang sangat berpengaruh. Dan sebagai calon orang tua, saya ingin berusaha sebaik mungkin agar anak saya nanti bisa tumbuh dengan bekal yang lebih baik daripada yang saya miliki dulu.


#rumahpulih

Iklan Tengah

Bagikan artikel ini:

Bagikan Artikel Ini
Iklan / Sponsor
Iklan
Iklan 2
Iklan Mengambang