Lima Bulan Berpisah, Belajar Menguatkan Hati untuk Anak
Dukungan Ibu | 21 Sep 2025 | Anonim | Dilihat 57x
Rumahpulih.com - Sudah lima bulan saya dan suami berpisah. Secara agama, kami memang tidak lagi bersama, namun secara hukum prosesnya belum berjalan karena mantan suami belum juga mengajukan ke pengadilan. Padahal sejak awal saya sudah meminta agar dialah yang mengurus proses tersebut, karena selain lebih mudah, keputusan berpisah ini juga memang berasal dari dirinya.
Hari-hari terasa berbeda. Ada banyak hal yang harus saya pelajari ulang, bagaimana berdiri sendiri, bagaimana tetap menjaga hati, dan yang paling penting, bagaimana tetap mendampingi anak kami yang sedang berusaha memahami situasi ini.
Siang tadi, anak saya tiba-tiba bercerita. Dengan raut wajah bingung, ia mengatakan bahwa baru saja diajak video call oleh ayahnya. Tapi dalam panggilan itu, sang ayah justru menelpon bersama kekasih barunya.
Sebagai seorang ibu, hati saya tentu terasa campur aduk. Ada perasaan tak apa-apa, tapi di sisi lain ada rasa yang sulit saya jabarkan. Bukan soal cemburu, bukan juga marah, melainkan rasa aneh melihat bagaimana anak saya sudah bersinggungan dengan kenyataan yang mungkin terlalu cepat untuk usianya.
Anak saya menatap saya sambil bertanya-tanya, seolah mencari jawaban bagaimana ia harus bersikap. Saya menenangkan dirinya, dan berkata:
“Jangan membenci Ayah, jangan juga membenci Ibu. Dan jangan pula membenci orang baru yang hadir. Bersikaplah baik, Nak, agar kamu juga mendapat kebaikan dari orang lain.”
Saya tahu, kata-kata itu mungkin terasa berat bagi seorang anak kecil yang masih sulit menerima perubahan ini. Namun saya ingin menanamkan nilai sejak dini bahwa membenci tidak pernah membawa kebaikan. Hidup ini selalu berubah, dan menerima kenyataan dengan lapang dada adalah cara terbaik untuk melanjutkan langkah.
Saya juga belajar dari momen ini bahwa anak adalah cermin perasaan orang tua. Jika saya terus menanamkan kebencian, maka ia pun akan tumbuh dengan luka yang sama. Tapi jika saya mencoba mengajarkan untuk tetap berlapang dada, insya Allah ia akan belajar tentang ketulusan dan keikhlasan.
Meski begitu, saya tidak menutup mata bahwa di balik sikap tegar, ada rasa getir yang sulit saya ungkapkan. Perpisahan ini bukan sekadar tentang saya dan mantan, tetapi juga tentang perjalanan seorang anak yang harus beradaptasi dengan dunia yang berubah. Ada hari-hari ketika saya merasa kuat, ada juga saat di mana hati terasa rapuh.
Namun, di atas semua itu, saya percaya bahwa Allah selalu menyiapkan jalan terbaik. Setiap ujian datang bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan. Semoga langkah-langkah ini membawa kebaikan, dan semoga anak saya tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih sayang meski situasi keluarganya tak lagi sama.
Terima kasih teman-teman sudah sudi membaca curahan hati ini. Semoga kita semua selalu dikuatkan, selalu diberi jalan keluar yang terbaik, dan bahagia dengan cara kita masing-masing.
(Artikel ini kisah nyata dari pengikut rumahpulih.com)
Bagikan artikel ini:
Bagikan Artikel Ini