Antara Aku, Suami dan Ibu Mertua

Komunikasi Keluarga | 30 Sep 2025 | Athree | Dilihat 36x

Gambar Artikel

Rumahpuli.com - Izinkan saya cerita disini. Saya seorang ibu rumah tangga yang sudah 15 tahun menikah. Dari awal pernikahan, saya berusaha sabar dan belajar ikhlas menerima keadaan. Suami saya bekerja serabutan. Saya menerimanya karena saya tahu, meski penghasilannya tidak tetap, dia adalah orang baik dan punya rasa tanggung jawab.

Namun, kenyataannya, justru saya yang banyak menanggung beban ekonomi keluarga. Dari kebutuhan sehari-hari, hingga biaya tambahan untuk keluarga besar, sebagian besar datang dari usaha saya sendiri. Bahkan rumah yang kami tempati sekarang adalah hasil jerih payah saya menabung sejak sebelum menikah.

Tantangan terbesar muncul sejak tahun kedua pernikahan, ketika ibu mertua saya ikut tinggal bersama kami. Beliau tidak punya rumah lagi, karena rumahnya dijual untuk melunasi pinjaman online adik suami. Sejak saat itu, tanggungan semakin banyak. Saya bukan hanya menghidupi keluarga kecil saya, tapi juga mertua dan adik ipar yang sudah berkeluarga, namun masih enggan berusaha keras.

Seandainya hanya soal materi, mungkin saya masih bisa kuat. Tetapi yang membuat hati saya terluka adalah sikap ibu mertua yang sering menjelekkan saya di depan suami. Ucapannya sering menjadi sumber konflik. Bahkan hal-hal kecil seperti masakan atau cara saya mengurus rumah selalu dikomentari negatif. Saya berusaha bersabar, tetapi bertahun-tahun dihujani kata-kata yang menjatuhkan membuat hati ini sangat lelah.

Saya pernah mencoba bicara baik-baik, namun jawaban yang keluar justru membuat saya semakin tertekan. "Nanti kamu juga akan jadi mertua, hati-hati, bisa saja menantumu balas memperlakukanmu begitu," begitu katanya. Padahal saya hanya meminta beliau untuk sedikit lebih bersyukur dan menjaga ucapan.

Yang membuat semakin sulit adalah suami saya selalu membela ibunya. Saya bisa memahami posisi seorang anak, tetapi bukankah rumah tangga juga perlu adil? Ketika saya mencoba bersikap tegas, saya malah dianggap kurang hormat. Disisi lain, saya tidak mungkin mengusir mertua dari rumah, meski rumah ini jelas hasil kerja keras saya sendiri. Hati saya selalu ketakutan kalau dianggap anak durhaka atau menantu sombong.

Kini, setelah 15 tahun, saya merasa mental saya benar-benar terguncang. Diam dan memendam masalah terus menerus membuat saya hampir merasa tidak waras. Kadang saya bertanya-tanya, apakah salah jika saya meminta adik-adik suami untuk gantian merawat ibunya? Apakah itu terkesan mengusir? Apakah saya salah kalau akhirnya ingin memilih untuk menjaga kesehatan mental saya sendiri?

Saya menulis cerita ini bukan untuk membuka aib, tapi karena saya tidak punya tempat lagi untuk berbagi. Saya hanya ingin ada yang bisa mendengarkan, mungkin juga memberi pandangan. Apakah saya egois? Apakah saya masih bisa tetap berbuat baik tanpa terus mengorbankan diri sendiri?

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca curhatan panjang ini. Semoga ada yang bisa mengambil pelajaran, bahwa terkadang diam bukan selalu berarti kuat. Ada kalanya, kita juga perlu mencari jalan keluar agar hati tidak semakin terluka.

Iklan Tengah

Bagikan artikel ini:

Bagikan Artikel Ini
Iklan / Sponsor
Iklan
Iklan 2
Iklan Mengambang