Berdamai dengan Diriku Sendiri
Komunikasi Keluarga | 09 Oct 2025 | Athree | Dilihat 40x
Rumahpulih.com - Kadang aku bingung sendiri dengan rumah tanggaku sekarang. Dulu, waktu awal menikah, semuanya terasa manis. Tiap hari seperti bulan madu. Tapi setelah sepuluh tahun bersama, semua mulai berubah.
Mungkin inilah wajah asli dari pernikahan ketika bukan lagi tentang cinta yang berbunga, tapi tentang bagaimana bertahan menghadapi ujian yang datang silih berganti.
Beberapa hari ini aku dan suami sedang tidak bicara. Awalnya sepele, cuma karena dia pulang kerja langsung main HP, sementara pesan WhatsApp-ku dari jam dua siang belum juga dibaca.
Aku diam. Tapi makin aku diam, makin asyik dia dengan dunianya sendiri. Akhirnya aku marah. Lima hari kami sama-sama diam, sampai akhirnya dia mencoba membujukku lagi.
Saat itulah aku jujur, aku keluarkan semua yang selama ini aku pendam.
Suamiku memang orang yang bertanggung jawab. Tapi kalau ada masalah, dia selalu memilih diam.
Seolah menunggu badai reda sendiri. Kalau aku marah, dia juga selalu menunggu aku tenang dulu baru bertanya, padahal aku butuh didengar saat itu juga.
Kadang aku merasa, aku seperti bicara sendiri di dalam rumah tangga ini.
Yang membuatku paling sedih adalah saat anak kami ikut menyaksikan pertengkaran. Pernah, di puncak amarah, dia sampai mencekik ku di depan anak.
Sejak saat itu, setiap kali aku dan dia mulai meninggikan suara, anak kami langsung berkata lirih,
“Bunda, Ayah, jangan berantem ya.”
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hatiku. Aku tahu anakku terluka. Dan aku merasa gagal menjaga rumah ini tetap aman untuknya.
Masalah kami bukan cuma soal komunikasi. Ada juga soal keluarga. Saudara suamiku sering sekali meminta bantuan.
Padahal kami sendiri sering kekurangan, bahkan suami pernah sampai pinjam uang secara online hanya untuk membantu mereka.
Pernah juga aku temukan chat suami dengan mantan dan bawahan kerjanya memang katanya hanya urusan pekerjaan, tapi entahlah… rasa percaya itu perlahan terkikis.
Aku pernah hampir menyerah. Pernah sampai di titik ingin mengakhiri hidup karena merasa tidak sanggup lagi.
Tapi setiap kali menatap anakku, aku tahu aku tidak boleh kalah. Aku masih ingin jadi ibu yang kuat untuknya.
Kini aku berada di persimpangan. Aku tidak ingin berpisah, tapi aku juga tidak bisa terus seperti ini.
Aku ingin suamiku sadar, ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Bukan agar dia terluka, tapi agar dia belajar menghargai.
Aku hanya ingin dipahami, didengarkan, dan dianggap penting bukan hanya sebagai ibu dari anaknya, tapi sebagai istri yang juga punya hati dan lelahnya sendiri.
Menjadi ibu rumah tangga tidak mudah. Di rumah, aku terlihat diam, tapi di dalam hati aku berjuang melawan banyak hal kesepian, luka, dan keinginan untuk tetap bertahan.
Kadang aku ingin kembali bekerja, punya ruang sendiri, tapi anak masih kecil, jadi aku tetap di sini.
Aku tidak tahu apakah ini fase yang akan berlalu, atau tanda bahwa aku harus mulai melepaskan.
Tapi satu yang aku tahu aku butuh pulih. Aku butuh kembali mengenal diriku sendiri, sebelum semua ini membuatku lupa siapa aku sebenarnya.
Bagikan artikel ini:
Bagikan Artikel Ini