Aku Lelah Tinggal di Rumah Mertua, Semua Harus Aku Lakukan Sendiri

Emosi dan Psikologi | 08 Nov 2025 | Admin Rumah Pulih | Dilihat 36x

Gambar Artikel


RumahPulih.com - Aku seorang ibu dengan satu anak yang baru berusia 1 tahun 10 bulan. Saat ini aku tinggal bersama mertua dan dua adik ipar yang satu berusia 6 tahun, dan yang satu lagi 15 tahun.

Suamiku bekerja dari pagi sampai malam, sementara mertua hampir setiap hari berada di sawah dan kebun.

Awalnya, aku pikir tinggal di rumah mertua akan terasa lebih ringan. Tapi ternyata justru sebaliknya. Aku harus mengurus rumah dengan enam orang penghuni, membersihkan, memasak, dan mengasuh anak semuanya aku kerjakan sendiri tanpa bantuan siapa pun.

Setiap hari aku merasa tenagaku terkuras habis. Belum lagi, rumah ini jauh dari pasar. Tukang sayur pun jarang lewat. Aku sering bingung mau masak apa hari ini, karena stok bahan makanan sering habis duluan dimasak oleh adik iparku yang berusia 15 tahun.

Sudah berkali-kali aku bicarakan, tapi sepertinya tidak pernah dipahami.

Yang membuatku semakin lelah, adik iparku jarang sekali mau membantu. Ia lebih sering berada di kamar, berbaring, atau bermain ponsel, sementara aku harus membersihkan rumah dan menjaga dua anak kecil anakku sendiri dan adik iparku yang berusia 6 tahun.

Dapur di rumah ini masih terpisah karena sedang tahap renovasi, jadi setiap kali memasak aku harus bolak-balik antara rumah dan dapur sambil mengawasi anakku yang aktif sekali. Aku sering kelelahan dan kehilangan kesabaran.

Selama seminggu terakhir, aku sering berselisih dengan mertua karena hal-hal sepele. Tapi bagi beliau, rumah harus selalu rapi dan makanan sudah siap, tanpa mau tahu seperti apa kondisi sebenarnya di dalam rumah. Aku sering menahan perasaan dan menangis diam-diam, karena rasanya benar-benar capek fisik dan batin.

Suamiku pun tidak banyak membantu. Setiap kali aku mencoba bercerita, ia hanya diam. Kami bahkan sudah hampir dua bulan sering bertengkar, tapi tidak ada perubahan.

Aku merasa tidak didengar dan tidak dimengerti.

Setiap hari aku harus menjemput adik iparku yang sekolah jauh, membawa anakku di bawah terik matahari. Kadang aku merasa sangat kasihan pada anakku yang rewel karena kepanasan, tapi di saat bersamaan aku juga kehilangan kesabaran dan malah memarahinya. Setelah itu aku menyesal — tapi semuanya seperti lingkaran yang tak berujung.

Aku tahu, anakku tidak salah. Aku hanya terlalu lelah.

Terlalu banyak tanggung jawab, terlalu sedikit ruang untuk diriku sendiri.

Aku sudah sempat berpikir untuk mengontrak rumah atau mengajukan pinjaman ke bank agar bisa mandiri, tapi suamiku tetap diam tidak memberi saran, tidak menolak, hanya diam.

Aku bingung harus bagaimana, harus mengadu ke siapa.

Yang aku tahu, aku hanya ingin punya tempat tenang untuk mengasuh anakku tanpa terus merasa bersalah dan sendirian.


Iklan Tengah

Bagikan artikel ini:

Bagikan Artikel Ini
Iklan / Sponsor
Iklan
Iklan 2
Iklan Mengambang